after final exam Presenter

after final exam Presenter
with my lecturer

Laman

Me and Gustav Aulia

Me and Gustav Aulia
After Final presenter

Kamis, 01 April 2010

communication Theory assignment

BAB I
Proses Kudeta Gerakan G 30 September
A. Kekuatan Pancasila Kontra G 30 S PKI
Pada tanggal 30 september 1965, di tanah air kita terjadi peristiwa yang di dahului dengan penculikan dan pembunuhan terhadap enam perwira tinggi TNI –AD diculik dan kemudian di bunuh dalam suasana “Pesta Pora Harum Bunga” di Lubang Buaya, di daerah komplek pangkalan Halim Perdana Kusuma. Penculikan dilaksanakan oleh kelompok-kelompok militer yang berinitikan kesatuan-kesatuan batalyon 454 divisi diponegoro dan battalion 1 resimen cakrabirawa, pasukan Gerak Cepat AURI dan Brigade Infanteri I Jakarta Raya, yang semuanya bergabung dalam satu menit yang menggunakan nama samara pasukan Pasopati dengan komandan letnan Satu Abdul Arif. Menteri coordinator jendral A.H nasution Bidang Pertahanan Keamanan KASAB, berhasil lolos dan lari menyembunyikan diri dengan mendapatkan luka ringan, sedangkan putrinya , ade Irma suryani tertembak parah dan akhirnya meninggal di rumah sakit ( Nugroho Notosusanto Dan Marwati Djoened Poesponegoro, 1984:390)
Pada siangnya 14.00 RRI menyiarkan “Dekrit No.1 yang di tanda tangani oleh komandan gerakan 30 september Letn.Kolonel Umtung dan oleh para wakilnya yaitu brigadier Jend.Supardjo, letkol Udara Heru. Beberapa pokok isi dekrit No.1 G 30 S PKI ialah :
1. Telah dilakkukan pembersihan di Jakarta oleh Gerakan 30 september terhadap dewan jenderal yang merencanakan akan melakkukan kudeta menjelang tanggal 5 oktober, dan beberapa jenderal telah di tangkap oleh gerakan 30 september serta kekuasaan sepenuhnya berada di tangan gerakan.
2. G 30 September semata-mata adalah gerakan dalam tubuh Anegara republik angkatan Darat.
3. Oleh pimpinan G 30 September segera akan dibentuk suatu dewan Revolusi Indonesia yang merupakan sumber dari segala kekuasaan di dalam Negara republic Indonesia.
4. Tindakan pengamanan terror,sabotase, dijalankan secara sistematis untuk sekedar mengisi psywar sebagai kenyataan.
5. Usaha agar pemerintah dan rakyat yakin bahwa partai kita masih tetap berdiri dan kuat, karena itu seksi agitrop tiap-tiap CBD harus diperkuat dan dikerahkan.
6. Khususnya di Jakarta, baik DD maupun Sastro ceweng harus tetap dapat merasakan bahwa kita adalah factor bahaya besar dan tidak begitu saja dapat ditiadakan.
7. Perlu dijamin, hubungan segitiga, sastro,dan ceweng yang paling aman adalah melalui perwakilan Negara tetangga.
B. INTERPRETASI ATAS KUDETA GERAKAN 30 SEPTEMBER

Menurut roger Paget bahwa sekitar masa tanggal 30 september -1 oktober 1965, tidak ada suatu kudeta maupun percobaan kudeta,melainkan persoalan intern angkatan darat. pendapat ini benar, tetapi baru separu benar, menurut Bruce Grant, tindakan letkol untung yang membentuk suatu dewan revolusi dan menurunkan serta menaikkan pangkat adalah seperti model tindakan kudeta yang dilakkukan oleh colonel Gamal Andul Nasser dari mesir dan kapten Kong Le dari Laos. Menurut yahya A. muhaimin bahwa,walalupun gerakan 30 September secara tidak resmi menggunakan organ PKI, Dan PKI juga tidak resmi melibatkan langsung dalam percobaan kudeta, tetapi jelas PKI telah memainkan peranan besar didalam dramav 30 September. Berlainan dengan pembrontakan PKI di Madiun 1948, maka dalam peristiwa ini tempramen aksi PKI yang demikian tinggi masih belum memberanikan diri untuk secara terbuka merebut kekuasaan politi dan pemerintahan, serta membinasakan musuh utamanya, yaitu angkatan darat. Tidak mengherankan, bila PKI melaksanakan secara tidak langsung, yaitu dengan menggunakan Letkol.Untung sebagai pemegang komando gerkan 30 September. Pendapat ini dibenarkan oleh, Nugroho Noto Susanto dan Ismail Saleh, gerakan 30 september bukanlah semata-mata militer, tapi lebih banyak bersifat politis.
Batas lingkup “Gerakan “ tersebut ternyata lebih dari angkatan darat, melainkan skalanya sudah bersifat nasional. Kenyataan bahwa PKI adalah dalang dari gerakan 30 September terbukti dari fakta-fakta bahwa Sjam dan Pono duduk dalam sentral komando.menurut pengumuman pertama dari gerakan 30 September, dewan jendral sedang merencanakan Kudeta terhadap presiden soekarno.akan dilakkukan sekitar tanggal 5 oct 1965.untuk maksud ini pasukan-pasukan elite dari Jawa barat,Tengah dan Timur telah dibawa ke Jakarta, pura-pura ikut serta dalam parede hari angkatan bersenjata. Dalam pengadilan Mahmillub,Menurut Nugroho Notosusanto dan ismail saleh ,kebanyakan pelaku Gerakan G 30 september membenarkan diri dengan alasan bahwa Dewan Jenderal benar-benar ada dan sedang merencanakan suatu kudeta. Akan tetapi sangat sedikit bukti yang diketemukan dapat mendukung tuduhan itu. Mereka rupanya mendasarkan dari intuisi politis bukanya pada fakta-fakta yang nyata.
Desas-sesus adanya jendral telah berkembang sejak awal 1965 dan dalam suatu pertemuan para panglima ke IV Angkatan Bersenjata tanggal 26 Mei 1965, presiden soekarno menanyakan hal ini kepada let.jend Ahmad Yani,benar bahwa beberapa jenderal telah mengadakan pertemuan untuk melakkukan evaluasi terhadap kebijaksanaan Presiden Soekarno.Menurut Njono memang tidak ada bukti yang menunjukkan adanya pendirian badan resmi seperi itu, tetapi amat mungkin bahwa para jenderal yang meminati politik sering bertemu secara tidak resmi untuk mendiskusikan perkembangan-perkembangan terakhir. Dengan adanya perbedaan di antara Yani dan Nasution, maka bisa jadi bahwa nasution tidak termaksud salah satu dari mereka, tetapi keenam jenderal yang terbunuh pada tanggal 1 oktober 1965.dan barang kali pula brigadir Jenderal Sukendro yang mungkin menjadi sasaran , jika saja dia tidak berada di Peking untuk menghadiri perayaan hari nasional RRC, dimana dia merupakan penasehat-penasehat inti letnan jenderal Ahmad Yani dan memang sering mengadakan pertemuan. Akan tetapi tidak ada bukti-bukti yang dapat menunjukkan bahwa, dewan jenderal memang melakkukan atau merencanakan suatu kudeta pada awal oktober.
Mengingat tidak ada bahan bukti tentang akan adanya suatu kudeta dari pihak Dewan Jenderal seperti yang dikatakan Soekarno,Soebandrio,dan D.N Aidit, dalam pernyataan-pernyataan mereka dimuka umum, maka masuk akal kiranya untuk mengandaikan bahwa untung dan pembantu-pembantunya tentu telah diberi banyak bahan bukti, dan telah dihasut sebelum mereka melancarkan gerakan yang luar biasa dan sangat berbahaya. Selain itu yang memperkuat bahwa PKI bagaimana pun, telah terlibat dalam petualangan Letkol.Untung cs. Itu adalah pernyataan yang diberikan orang-orang komunis sesudah oktober 1965, yakni Sudisman, yang ditahan oleh tentara seorang anggota Polit Biro yang ketika itu menjadi buron, menulis kritik atas kebijaksanaan PKI yang berjudul “Membangun PKI menurut ajaran Marxis-Leninisme”. Di dalam dokumen itu, yang kemudian disiarkan oleh Indonesia tribun, 2 Januari 1967, di Tirana Albania,Sudisman mengakui bahwa PKI telah melakkukan petualangan dengan melibatkan diri dalam gerakan 30 september diperkuat oleh pendapat Ulf.Sudaosen, pengakuan-pengakuan serupa terdapat didalam laporan-laporan yang disusun oleh sebuah kelompok PKI Pro-soviet yang melarikan diri ke luar negeri.
Menurut keterangan sjam,yang diperkuat oleh keterangan Untung dan pemimpin PKI, seperti Sakirman,Sudisman,Jono,Dan Soejono Pradigdo:bahwa biro khusus itu memang ada dan telah dimanfaatkan dengan baik dalam bulan agustus dan September 1965, pada tanggal 4 agustus 1965, ketika DN.Aidit mengunjungi Cina, presiden soekarno jatuh pingsan di muka umum. Sekembalinya dari cina,DN.Aidit membawa tim dokter cina yang telah memeriksa presiden soekarno, yang kabarnya menerangkan kepada DN.Aidit bahwa soekarno sakit gawat. Ini merupakan kabar yang mengejutkan seandainya soekarno meninggal dunia atau tidak mampu lagi menunuaikan tugasnya,untuk selama-lamanya,maka angkatan darat sudah pasti menghantam PKI. Polit Biru dengan tergesah-gesah bersidang membicarakan tentang kesehatan presiden soekarno,dan bahaya yang bisa timbul dari keadaan itu bagi partai, serta ancaman yang akan datang dari dewan jenderal. Tampaknya tidak seorang pun dalam pertemuan tsb yang menyaksikan existensi dewan itu dan rencana untuk melancarkan kudeta.tetapi DN.Aidit masih dapat mengemukkakan bahwa, ada sekelompok perwira yang merasa berkewajiban untuk mencegah kudeta para jenderal itu,namun dia tak menyikap identities untung dan pembantu-pembantunya. Polit biro lalu memutuskan DN aidit harus terus memelihara hubungan dengan “ perwira-perwira progresif itu, serta melaporkan kepada presiden mengenai bahaya kudeta yang hendak dilancarkan para jenderal angkatan darat, dan meminta kepadanya untuk mengambil tindakan pencegahan serta member tahu partai tentang kudeta yang akan terjadi itu. DN.Aidit lalu memerintahkan sjam dan pono untuk meningkatkan kontak mereka dengan untung. Menurut kesaksian untung, kedua tokoh komunis itu secara teratur bertemu dengan dirinya (untung), latief, sujono dank apt.wahyudi guna membicarakan tindakan yang akan di ambil terhadap rencana kudeta para jenderal itu.




























BAB II
AWAL YANG MENENTUKAN
Dari gerakan Aksi Massa, hingga tumbangnya ORDE LAMA hingga lahirnya ORDE BARU
C. Aksi-aksi Massa Menumbangkan orde lama
Berita mengenai kejadian dilubang buaya menyebar, laksana api yang membara ke seluruh tanah air. Pidato mayor jenderal Soeharto ketika penggalian perwira-perwira yang dibunuh, disusul oleh laporan-laporan berita lainnya.menunjukan bahwa PKI melalui organisasinya yaitu pemuda Pemuda Rakyat Gerwani, berdiri dibelakang percobaan kudeta gerakan G 30 September. Masyarakat Indonesia merasa dikhianati oleh sebuah kelompok yang paling setia, yang paling progresif revolusiuner dan yang paling patriotic, sementara mereka menuduh pihak-pihak lain sebagai pengkhianat dan antek-antek pihak asing. Gelombang amarahnya meliputi seluruh bangsa Indonesia, yang akhirnya mencetuskan tuntutan agar PKI dibubarkan dan untuk di adili perbuatannya melalui rapat umum Kesatuan Aksi Menggayang Gerakan Kontra Revolusi 30 September (KAP-Gestapu) yang dibentuk oleh tokoh-tokoh NU,PSII,Partai Katolik,IPKI,dan Ormas masing-masing di Jakarta.
Dari segi militer situasi di propinsi agak mencemaskan. Dari 7 batalyon infrantri diponegoro yang berada di Jawa Tengah, pada tanggal 1 october 1965 lima batalyon memihak gerakan 30 September. Dengan gagalnya gerakan 30 September di Jakarta, kesatuan-kesatuan yang mendukungnya di Jawa Tengah tidak punya alasan untuk bertahan terus. Mereka menyatakan ketegasannya untuk melaksanakan peritah presiden dan Surjosumpeno. Tetapi loyalitas mereka sangat diragukan sebab panglima Divisi memerintahkan mereka untuk menempati posisi tempur di sumatera menghadapi posisi tempur di Malaysia, dan memulangkan pasukan-pasukan yang loyal dari Sumatera ke Jawa Tengah. Hanya saja pergatian itu tidak dapat dilaksanakan dengan segera, karena tidak tersedianya sarana angkutan.
Sementara itu para pemimpin Angkatan Darat di Surabaya Ragu-ragu untuk bergerak memihak PKI, tanpa adanya perintah yang jelas dari Jakarta, para pemimpin ansor memutuskan untuk bergerak menindak untuk mengambil prakarsa. Dalam pertemuan yang di adakan kira-kira tanggal 10 oktober 1965 di putuskan untuk mengadakan rapat-rapat umum serentak tengah hari tanggal 12 oktober 1965 di Kediri,blitar, trenggarek,dan kota-kota lainnya. Sesudah itu akan dilakkukan penyerangan terhadap kantor-kantor PKI dan pendukungnya yang di pandang bersimpati kepada PKI akan dibunuh. Sesudah para perwira angkatan darat setempat di pandang bersimapti kepada rencana mereka akan diberi tahu, demontrasi dilangsungkan dan sesuai “apel Singa umat islam” di Kediri,11 orang pendukung PKI di cincang sampai mati karena mencoa mempertahankan kantor partai yang telah dikepung. Pada tanggal 18 oktober 1965 terjadi suatu bentrokan besar antara pendukung PKI dengan pemuda-pemuda ansor yang dibantu Pemuda islam Yaitu, Pemuda Muhammadyah dan PSII di banyuwangi Selatan Ujung Timur Pilau Jawa. Kira-kira 35 mayat diketemukakan dimana beberapa ribu orang pendukung PKI.
Dijakarta angkatan darat bergerak cepat menahan kader-kader PKI dan para aktifis organisasi massanya, dimana diumumkan bahwa 200 orang telah di tahan. Sejalan dengan ini di jawa barat para pejabat militer melumpuhkan partai, dan pada bulan December lebih dari 10.000 orang telah ditangkap. Karena telah terputus dengan pimpinan-pimpinannya, para anggota biasa PKI lalu berkumpul dilapangan ,di kota-kota,dan di desa-desa secara sukarela membubarkan diri partai beserta organisasi pendukungnya tsb. Pada bulan November diumumkan bahwa kira-kira dua per 3 dari cabang-cabang dibubarkan dijawa barat, khususnya dipesisir utara sekitar Cirebon, indramayu,dan subang dimana PKI tidak berkesempatan meneliti masalah secara benar. Kedudukan PKI yang relative lemah dijawa Barat mempermudah pelaksanaan tugas angkatan darat (Harold Crouch). Di bagian-bagian Indonesia lain dimana PKI bukan merupakan kekuatan politik yang besar, biasanya angkatan darat bergerak lebih cepat menahan para aktifis PKI sebelum lawan-lawan sipil partai tersebut mengambil tindakan-tindakan yang lebih drastis. Walaupun demikian pembunuhan-pembunuhan terjadi diseluruh daerah, biasanya kerja sama dengan penguasa-penguasa militer setempat.
Pada tanggal 10 januari 1966, ribuan mahasiswa berkumpul difakultas Kedokteran Universitas Indonesia dan merencanakan Tritura (Tri Tuntutan Rakyat).tuntutan itu adalah :
• Pembubaran PKI dan ormas-ormasnya.
• Bersihkan Kabinet dan unsur-unsur G 30 S/PKI.
• Turunkan Harga-harga.
Sesuai pidato colonel Sarwo Edhie Wibowo, mereka berbaris menuju ke Departemen P dan K untuk menyampaikan tuntunan dan dari sana ke secretariat Negara disebelah istana Presiden dan bertemu dengan Chairul Saleh, mereka memutuskan demonstrasi pada hari-hari berikutnya.
Demonstrasi yang penuh dengan situasi pesta por tsb.ditujukan kepada kebijaksanaan yang ditempuh pemerintah dan anggota cabinet-kabinet tertentu, dan tidak secara explicit ditujukan kepada Presiden Soekarno. KAMI Bandung yang nantinya akan memasukkan nada yang jelas-jelas anti Soekarno ke dalam kampanye mereka tersebut.
BAB III
LAHIRNYA SURAT PERINTAH 11 MARET 1966
D. Serah Terima Yang Penuh Kontroversi
Sejak minggu pertama maret 1966, Jakarta dilanda demonstrasi pemberontakan-pemberontakan antara para demonstran pendukung presiden soekarno yang justru masing-masing pihak dibantu dan dilindungi oleh militer.
Pada tanggal 10 Maret 1966, Presiden Soekarno memanggil para pemimpin organisasi dan para partai politik untuk melakkukan siding 1 hari penuh. Ini adalah hari yang pertama dari usaha presiden untuk secara marathon mengembalikan kewibawaan politik dikalangan elit politik. Pada hari kedua 11 Maret 1966, direncanakan bersidang dengan anggota kabinet 100 menteri, dan pada hari ke tiga tanggal 12 Maret 1966, telah ditetapkan akan memanggil pimpinan ABRI beserta para panglima Daerah Militer seluruh Indonesia untuk bersidang.pada tanggal 10 April itu, setelah dicambuk oleh karisma pidato Presiden dan mendapat tekanan-tekanan, akhirnya pada hari itu juga para pemimpin politik dan organisasi dan semi politik mengeluarkan pernyataan bersama yang intinya mendukung presiden Soekarno.
Pada tanggal 11 Maret 1966, sesuai dengan rencananya Presiden Soekarno mengadakan sidang kabinetnya dengan 100 orang menteri, tetapi Men/Pangad Letnan Jenderal Soeharto tidak menghadirinya karena sakit. Beberapa saat setelah sidang berladan langsung pada jam 11.30, presiden menerima surat dari pengawalnya Brigadir Jend.Sabur, Yang memberitahukan kepadanya bahwa ada pasukan tidak dikenal telah mengepung istana dan sedang memasuki komplek istana. Setelah dibacanya , presiden dengan cepat meninggalkan ruang siding dan langsung menuju ke helicopter, kemudian terbang ke Bogor bersama Soebandrio dan Chaerul Saleh, siding tersebut ditutup 5 menit kemudian oleh J.Leimena.
Menurut pengakuan Amir Machmud surat perintah 11 Maret 1966 dirumuskan setelah ketiga jenderal itu berbicara dengan presiden soekarno dan memahami keinginan-keinginan. Surat tersebut dirancang oleh ketiga jenderal itu dengan bantuan Brigadir Jend.Subur. presiden soekarno lalu menunjuk kepada Soebandrio , chaerul saleh dan leimena. Menurut keterangan jenderal A.H Nasution bahwa konsep “surat perintah 11 Maret” tersebut terbuat oleh Presiden Soeharto. Menurut jenderal A.H Nasution ketiga jenderal itu baru menyadari dalam perjalanan mereka kembali ke Jakarta Bahwa surat perintahnya itu merupakan suatu penyerahan kekuasaan kepada letnan.jenderal Soeharto . namun, menurut keterangan John Hughes bahwa konsep surat perintah 11 Maret 1966 di buat oleh TNI.AD dan kemudian disodorkan kepada presiden soekarno untuk ditanda tangani setelah dilakkukan pembicaraan di antara mereka dan kemudian presiden soekarno menanyakan ketiga perwira tinggi TNI-AD itu, apakah punya saran dan usul. Menurut polomka mengatakan bahwa konsep surat perintah 11 Maret itu di buat di Jakarta dan kemudian menyerahkan kepada presiden Soekarno dengan ultimatum agar segera ditandatangani.
Menurut Ulf Sundhaussen bahwa orang bisa berdebat apakah secara praktisinya tidak merupakan suatu kudeta . angkatan darat tegas-tegas menolak interpretasi seperti itu. Mereka (AD) beralasan bahwa “surat perintah 11 Maret “,itu merupakan suatu serah terima kekuasaan terbatas secara sah dari soekarno kepada soeharto, dan saat itu presiden soekarno pun,masih tetap memimpin pemerintahan. Argument ini tentunya bisa saja dikaitkan orang dengan demonstrasi dari pihak RPKAD serta memanfaatkan kepanikan Soekarno yang diakibatkan kehadiran pasukan itu. Bahkan seandainya dikemukakan argument bahwa, orang-orang radikal dalam tubuh angkatan darat tidak menduga sebelumnya bahwa “pameran kekuatan” mereka yang kecil-kecilan itu akan mencapai hasil yang begitu nyata, seperti larinya Soekarno ke Bogor serta tidak diketemukannya bukti keterlibatan soeharto dalam gerakan pasukan itu. Tapi realita sejarah yang telah berlangsung adalah bahwa kaum moderat dan kaum radikal telah bersama-sama tidak menyia-nyiakan peluang dan memanfaatkan ketakutan soekarno.
Berangkat dari pendapat-pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa penyerahan surat peritah 11 Maret dari presiden Soekarno kepada Letnan Jenderal Soeharto adalah serah terima kekuasaan terbatas secara sah dibidang ketertiban dan keamanan serta bukan merupakan kudeta atau paksaan dari ketiga jenderal Angkatan Darat.
E. Pembubaran PKI dan Ormas-Ormasnya
Pada tanggal 11 Maret 1966, presiden soekarno mengeluarkan surat perintah kepada Letnan Jenderal Soeharto untuk atas nama presiden /pangti ABRI/pemimpin besar revolusi No.1/31966 mengambil segala tindeakan yang di anggap perlu guna terjaminnya keamanan dan ketenangan serta kestabilan pemerintah.
Pemberian surat perintah tersebut merupakan pemberian wewenang dan sekaligus kepercayaan kepada soeharto untuk mengatasi keadaan yang pada waktu yang tidak menentu.
Tindakan pertama yang dilakkukan oleh soeharto dan melarang PKI beserta organisasi masanya yang bernaung atau berlindung ataupun yang seasas dengannya diseluruh wilayah Indonesia dan kepada mahasiswa serta pelajar untuk segera kembali ke bangku kuliah. Dalam seruan yang sama para anggota partai terlarang harus segera melaporkan diri paling lambat akhir Maret 1966.
Pada tanggal 13 maret 1966 ketegangan di kalangan angkatan bersenjata timbul oleh karena semua pihak telah mengambil kesimpulan mereka sendiri-sendiri tentang apa yang terjadi. Dirangsang kegeraman atas penggunaan kekuasaan soeharto yang baru untuk membubarkan PKI atas nama presiden, soekarno memanggil para wakil perdana menteri dan Angkatan Laut, kepolisian, dan Angkatan Udara ke istana Bogor. Sementara para perwira kostrad juga siap-siap untuk melawan serangan dari pihak Angkatan Udara. Pasukan angkatan darat dan pasukan angkatan udar dipersiapkan untuk siap siaga. Pasukan kostrad menduduki tempat-tempat strategies diwilayah kota sedangkan KKO serta pasukan kepolisian siap siaga untuk bertindak. Sementara masing-masing angkatan berhadapan satu sama lain. Jenderal A.H Nasution memanggil para wakil keempat angkatan kerumahnya pada malam hari. Pada permulaan pertemuan itu Kemal Idris yang menjadi wakil dari angkatan darat menolak untuk berjabat tangan dengan laksamana muljadi, Mayor Jend.Hartono dan wakil dari angkatan udara Komondor Rusmin Nurjadin. Akan tetapi sesudah terjadi diskusi yang hangat suatu
pengertian bersama dapat disepakati dan stiap orang kemudian saling berjabat tangan.

F. Interpretasi Lahirnya Surat Perintah 11 Maret 1966
Merupakan pengakuan Amir Mahmud kepada kompas 12 Maret 1971 bahwa, surat perintah 11 Maret dirumuskan setelah ketiga jenderal itu berbicara dengan presiden soekarno dan memahami keinginan-keinginannya. Surat itu dirancang oleh ketiga jenderal itu dengan bantuan brigadier jenderal sabur. Presiden soekarno kemudian menunjukan kepada soebandrio.chaerul saleh dan J.Leimena. menurut amir Machmud Soebandrio membubuhkan perubahan-perubahan kecil dalam rumusan, kemudian presiden soekarno menanda tangani. Demikian juga menurut Soegiarso Soerojo Konsep surat pemberian wewenang itu kemudian disusun oleh jend.sabur, komandan pasukan Cakrabirawa. Berkali-kali konsep itu dibuat melalui penelitian ketiga waperdam. Menurut keterangan jend.AH Nasution, bahwa konsep “surat 11 Maret “ tersebut dibuat oleh presiden soekarno sendiri bersama ketiga Waperdam dan Ketiga jenderal angkatan Darat. Oleh brigadier Jend.Sabur, surat itu diketik sendiri untuk kemudian diserahkan kepada presiden soekarno. Menurut jend.A.H.Nasution, ketiga jenderal tersebut baru menyadari dalam perjalanan kembali dari Bogor menuju Jakarta bahwa surat perintah itu sesungguhnya merupakan suatu penyerahan kekuasaan kepada Letn.Jend Soeharto. Namun menurut John Hughes dan polomka bahwa, konsep surat perintah 11 Maret di buat oleh TNI-AD di Jakarta dan kemudian menyerahkannya kepada presiden soekarno dengan ultimatum agar di tandatangani.
Pendapat john hughes dan polomka ini sulit kiranya untuk dipercaya bahwa, para jenderal tersebut membawa rancangan surat itu dari Jakarta kemudian menyerahkannya kepada presiden dengan ultimatum agar di tanda tangani. Pendapt ini dibantah oleh ulf Sundhausser mengatakan bahwa boleh jadi ketika jenderal itu ketika diberikan tugas paling banter baru mempunyai suatu gambaran yang samar-samar. Menurut Ulf Sundhausser bahwa orang bisa mengatakan dan berdebat apakah secara praktis tidak merupakan kudeta? Angkatan darat tegas-tegas menolak interpretasi seperti ini dan menunjukan bahwa “surat perintah 11 Maret” itu merupakan suatu serah terima kekuasaan terbatas secara sah dari presiden soekarno kepada letn.jend soeharto masih tetap memimpin pemerintahan. Argument ini tentunya bisa saja di kaitkan orang dengan demonstrasi dari pihak RPKAD dan memanfaatkan kepanikan soekarno yang di akibatkan hadirnya pasukan yang tak dikenal.
Berangkat dari pendapat-pendapat tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa penyerahan surat perintah 11 Maret dari presiden soekarno kepada letnan jederal soeharto merupakan serah terima kekuasaan terbatas dibidang ketertiban dan keamanan secara sah dari presiden soekarno kepada letnan jend soeharto tanpa adannya paksaan dari ketiga jenderal Angkatan Darat. Dengan demikian jelaslah bahwa lahirnya surat perintah 11 Maret bukanlah merupakan suatu kudeta atau paksaan dari ketiga jenderal Angkatan Darat.























JUDUL BUKU : Epilog KUDETA G 30 S PKI
PENULIS : Drs.Husnu Mufid,M.pd.I
CETAKAN PERTAMA : Maret 2008

NAMA : ASTRID ANNISA PUTRI
KELAS : 11-14C
NIM : 2007110533

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar